Nama: Novieta Hardiyanti
Kelas: 1DF01
NPM: 56213552
KATA PENGANTAR
Puji syukur
Penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang karena atas tuntunan-Nya
yang telah memberi rahmat dan hikmat-Nya kepada penulis untuk dapat
menyelesaikan penulisan ini yang berjudul “KEMACETAN YANG TERJADI DI JAKARTA”
sebagai syarat pemenuhan nilai pada mata kuliah Kewarganegaraan Fakultas
Ekonomi Jurusan Diploma 3 Manajemen Keuangan Universitas Gunadarma.
Selama
penyusunan penulisan ini penulis telah mendapat pengalaman yang sangat berharga
dalam berbagai hal. Selain itu dalam penulisan ilmiah ini, penulis juga
mendapat berbagai hambatan, akan tetapi berkat bimbingan dan dukungan baik secara
moral maupun materi dalam berbagai pihak, akhirnya semua dapat teratasi dengan
baik.
Penulis
menyadari bahwa masih banyak sekali kekurangan pada penulisan ilmiah ini. Oleh
sebab itu penulis dengan senang hati akan menampung dan menerima saran dan kritik
yang bersifat membangun untuk menyempurnakan materi dan isi dan penulisan
ilmiah ini.
Akhir kata,
semoga penulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan pihak lain yang
memerlukan.
Jakarta,7
Juli 2014
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar
Belakang
Kemacetan yang
terjadi di Jakarta bukanlah hal yang lazim tentunya bagi para penduduk Ibukota
Indonesia ini karena kemacetan merupakan masalah sehari-hari
warga Jakarta. Kemacetan yang terjadi hampir setiap saat ini memang membuat
lalu-lintas di ibukota terasa begitu tidak nyaman bagi para pengguna jalan. Hal
ini terjadi karena pertumbuhan jalan dan pertambahan jumlah kendaraan
tidak seimbang sehingga membuat lalu-lintas Jakarta begitu macet.
Kemacetan
lalu lintas yang menjadi masalah utama kota Jakarta sudah menjadi rahasia umum.
Pada tahun 2011 Presiden SBY telah menegaskan bahwa Jakarta harus bebas
dari kemacetan lalu-lintas pada tahun 2020 dan harus ada kemacuan yang
signifikan pengurangan kemacetan pada tahun 2014, oleh karena itu warga Jakarta
dan Pemerintah harus memikirkan hal-hal untuk memperbaiki dan mencari
berbagai alternatif upaya pemecahan masalah kemacetan di Jakarta.
Walaupun
saat ini sudah ada transjakarta atau busway tetapi itu tidak menjamin bahwa
kemacetan di Jakarta bisa di atasi. Pada tahun 2009 saja , jumlah kendaraan
kembali naik menjadi 6,7 juta dengan rincian 2,4 juta mobil dan 4,3 juta motor.
Pada 2010, peningkatan jumlah kendaraan menembus angka 7,29 juta dengan rincian
2,56 juta mobil dan 4,73 juta motor. Pada tahun 2011, meningkat lagi jadi 7,34
juta kendaraan, kendaraan roda empat sebesar 2,5 juta dan kendaraan roda dua
hampir 5 juta. Memang tahun ke tahun jumlah volume kendaraan di
ibukota bukannya semakin berkurang tapi malah semakin bertambah, tapi
itulah kenyataannya. Untuk itu harus ada upaya ekstra dan tegas yang harus
dilakukan oleh pemerintah.
I.2. Rumusan
Masalah
Rumusan
masalah dari penulisan ini adalah:
- Kapan kemacetan itu terjadi ?
- Kenapa samapai terjadi
kemacetan ?
- Mengapa sampai kemacetan di
Jakarta bertambah parah ?
- Pihak mana saja yang
menyebabkan kemacetan ?
- Langkah-langkah apa saja yang
dapat ditempuh pemerintah untuk mengatasi kemacetan ?
I.3. Tujuan
Penulisan
Tujuan dari
penulisan masalah ini adalah:
- Untuk mengetahui penyebab
terjadinya kemacetan Jakarta
- Untuk mengetahui dampak
negatif dari kemacetan di Jakarta
- Untuk mengetahui upaya-upaya
apa saja yang dapat dilakukan untuk mengatasi kemacetan di Jakarta
I.4. Sumber
Data
Sumber data
yang penulis pakai adalah data primer dalam bentuk observasi dan data sekunder
dalam bentuk browsing melalui internet.
BAB II
PEMBAHASAN
II.1.
Pengertian Kemacetan
Kemacetan adalah
situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang
disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan atau
bisa dikatakan volume kendaraan lebih besar dari pada volume jalan.
II.2. Waktu
dan Asal Terjadinya Kemacetan di Jakarta
Bagi Jakarta, seolah tiada hari tanpa kemacetan, kecuali pada saat hari-hari
raya keagamaan seperti saat lebaran maupun natalan, karena pada
saat lebaran maupun natalan ruas-ruas jalan di Ibukota Indonesia
ini begitu lengang karena banyak warga ibukota yang merayakan lebaran
maupun natalan bersama keluarga di luar kota Jakarta. Kebanyakan warga
Jakarta dan sekitarnya pasti sering mengalami betapa besarnya perjuangan untuk
mencapai tempat kerja,kampus maupun sekolahan bila keluar rumah lewat dari
pukul 07.00 pagi, karena pada saat itu kemacetan sudah dimulai terjadi.
Puncaknya pada jam masuk kerja dan jam pulang kerja salah satunya di
daerah Stasiun Kota-Kota Tua Jl. Taman Stasiun Kota No. 1, Jakarta Barat yang
bisa dilihat pada beberapa gambaran dibawah ini
Mengapa
kemacetan lalu lintas di Jakarta senantiasa terjadi pada jam-jam yang disebutkan
di atas? Jakarta bagaikan kota sentral yang di kelilingi oleh kota-kota
“satelit” yaitu: Tanggerang dan sekitarnya, Bogor dan sekitarnya serta Bekasi
dan sekitarnya.
Pada saat
tertentu kendaraan keluar-masuk Jakarta banyak yang berasal dari warga Jakarta
sendiri tetapi juga ditambah kendaraan yang berasal dari kota-kota satelit yang
jumlah menyamai atau mungkin melebihi kendaraan asal Jakarta. Ada yang sekedar
melewati (misalnya dari Tangerang menuju Bekasi akan melewati Jakarta), tetapi
ada juga yang memasuki Jakarta dan berdiam atau berkeliaran selama beberapa jam
sebelum kembali ke kota masing-masing.
II.3.
Faktor-Faktor Penyebab Kemacetan di Jakarta
- Faktor jalan raya (ruang
lalulintas jalan)
- Factor kendaraan
- Factor-faktor lain
II.3.1. Faktor
Jalan Raya (Ruang Lalu-lintas Jalan)
Faktor jalan
raya adalah factor yang berasal dari kondisi jalan raya itu sendiri. Buruknya
kondisi ruang lalu-lintas jalan serta sempit/terbatasnya ruang jalan yang
menghambat pergerakan pengguna jalan.
Penyebab
buruknya kondisi ruang jalan antara lain :
- Adanya
kerusakan sebagian atau seluruh ruas jalan
- Pemanfaatan
ruang jalan untuk urusan yang bukan semestinya, misal: jalan digunakan
untuk praktik pasar, berjualan, dan perpakiran.
II.3.2.
Faktor Kendaraan
Fakor kendaraan
adalah factor-faktor yang berasal dari kondisi kendaraan yang melintasi jalan
raya. Beberapa hal yang menyangkut kondisi kendaraan dapat berupa jenis,
ukuran, kuantitas(jumlah) dan kualitas kendaraan yang melintas di jalan raya.
Misal:
jumlah kendaraan yang beroperasi/melintas melebihi daya tampung jalan raya,
banyaknya jenis kendaraan berukuran besar yang menyebabkan mudah terjadinya overload
di suatu ruas jalan.
Saat ini
factor kendaraan beroda empat khusunya untuk mobil pribadi merupakan kontributor
terbesar penyebab kemacetan lalu-lintas di Jakarta, diikuti sepeda motor
angkutan umum dan sebagai kontributor terbesar kedua dan ketiga. Logikanya,
banyak mobil pribadi yang beroperasi di jalan raya pada suatu saat tertentu
secara bersamaan yang akan menyita lahan(ruang) jalan yang memang sudah sangat
terbatas. Selain itu, pemakai mobil pribadi di Jakarta sangat tidak efisien.
Yang dimaksud dengan tidak efisien adalah jumlah penumpang(termasuk pengemudi)
hanya 1 atau 2 orang di dalam satu mobil.
Selain itu
pengoperasian Bus Transjakarta (Busway) yang saat ini kurang efisien
dalam artian masih kurangnya kuantitas armada dan kualitas pelayanan sehingga
menyebabkan volume kendaraan pribadi begitu besar di Jakarta.
II.3.3.Faktor-Faktor
lain
Banyak factor-faktor
lain selain kedua factor komponen diatas misalnya:
Terjadi kecelakaan lalu-lintas sehingga terjadi gangguan kelancaran karena
masyarakat yang menonton kejadian kecelakaan atau karena kendaran yang terlibat
kecelakaan belum disingkirkan dari jalur lalu-lintas,
·
Terjadi banjir sehingga kendaraan memperlambat
kendaraan
·
Ada perbaikan jalan,
·
Bagian jalan tertentu yang longsor,
·
Karena adanya pemakai jalan yang tidak tahu aturan
lalu lintas, seperti : berjalan lambat di lajur kanan dan sebagainya
·
Pengaturan lampu lalu lintas yang bersifat kaku yang
tidak mengikuti tinggi rendahnya arus lalu lintas
II.4.
Dampak Negatif Kemacetan
Kemacetan
lalu lintas memberikan dampak negatif yang besar yang antara lain
- Kerugian waktu, karena kecepatan
perjalanan yang rendah
- Pemborosan
energi, karena pada kecepatan rendah konsumsi bahan bakar lebih rendah,
- Kehausan
kendaraan lebih tinggi, karena waktu yang lebih lama untuk jarak yang
pendek, radiator tidak berfungsi dengan baik dan penggunaan rem yang lebih
tinggi,
- Meningkatkan
polusi udara karena pada kecepatan rendah konsumsi energi lebih tinggi,
dan mesin tidak beroperasi pada kondisi yang optimal,
- Meningkatkan
stress pengguna jalan,
- Mengganggu
kelancaran kendaraan darurat seperti ambulans, pemadam kebakaran dalam
menjalankan tugasnya
Dampak Kemacetan Menurut LIPI
Dampak dari
kemacetan, menurut penelitian LIPI tahun 2007, adalah kerugian sosial yang
diderita masyarakat lebih dari Rp 17,2 triliun per tahun akibat pemborosan
nilai waktu dan biaya operasi kendaraan, terutama bahan bakar. Kecepatan
kendaraan yang rendah menyebabkan konsumsi bahan bakar menjadi tinggi.
Kehausan
kendaraan bermotor menjadi tinggi, karena kerja radiator tidak berfungsi dengan
baik dan penggunaan rem yang lebih tinggi. Belum lagi emisi gas buang yang
dapat menyebabkan pemasanan global diperkirakan sekitar 25 ribu ton per tahun.
Hal ini
menyebabkan Jakarta sebagai kota dengan tingkat polusi tertinggi kelima di
dunia setelah Beijing, New Delhi, Meksico City dan Bangkok. Bahkan, ada suatu
perhitungan yang memperkirakan kerugian dari kemacetan lalu-lintas ini mencapai
Rp 43 triliun per tahun. Dampak pada tahap selanjutnya adalah menurunnya
produktivitas ekonomi kota, bahkan negara dan merosotnya kualitas hidup warga
kota akibat polusi udara dan stress. Contohnya, angkutan umum yang seharusnya
dapat mengangkut enam rit per hari menjadi tiga rit, karena macet.
II.5. Rasio
Kendaraan
Berdasarkan
data Dinas Perhubungan DKI Jakarta, jumlah kendaraan di Jakarta pada 2007 sebanyak
5,8 juta kendaraan dengan rincian 2,2 juta mobil dan 3,6 juta motor. Pada 2008,
jumlah kendaraan kembali meningkat menjadi 6,3 juta kendaraan dengan rincian
2,3 juta mobil dan 4 juta motor.
Pada tahun
2009, jumlah kendaraan kembali naik menjadi 6,7 juta dengan rincian 2,4 juta
mobil dan 4,3 juta motor. Pada 2010, peningkatan jumlah kendaraan menembus
angka 7,29 juta dengan rincian 2,56 juta mobil dan 4,73 juta motor. Pada tahun
2011, meningkat lagi jadi 7,34 juta kendaraan, kendaraan roda empat sebesar 2,5
juta dan kendaraan roda dua hampir 5 juta
Rasio
kendaraan yang begitu meningkat dari tahun ke tahun memang merupakan hal yang
sangat sulit untuk dihindari. Dengan rasio kendaraan yang tiap tahunnya
meningkat tentunya tidak mengurangi kemacetan ataupun memperbaiki lalu-lintas
di Jakarta tapi malah justru semakin memperburuk lalu-lintas ibukota ini.
II.6. Solusi
Untuk Mengatasi Kemacetan di Jakarta
Untuk
memecahkan permasalahan kemacetan lalu-lintas di Jakarta, tidak dapat dicapai
dengan cara-cara yang “biasa”. Agar tingkat kemacetan di Jakarta dapat
dikurangi, maka upaya-upaya untuk mengatasi kemacetan di ibukota harus
dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam arti dilakukan dengan serius, menyeluruh
dan tidak setengah-setengah. Berikut ini adalah upaya-upaya untuk mengatasi
kemacetan di Jakarta, antara lain :
- Memperbaiki
jalan-jalan yang rusak
- Mempelebar
ruang jalan di ruas-ruas jalan yang masih memungkinkan untuk dilebarkan.
- Menertibkan
pedagang asongan yang beroperasi dipersimpangan jalan
- Membuat
jalur khusus sepeda motor di ruas-ruas jalan tertentu
- Membatasi
jumlah mobil pribadi yang harus dimiliki
- Membatasi
jumlah maksimum armada angkutan umum per trayek yang boleh beroperasi
- Regulasi
operasi kendaraan dengan nomor ganjil awal plat nomor kendaraan, Misalkan
nomor awal ganjil pada hari senin tidak boleh beroperasi, bolehnya selasa,
kamis, Jumat dan sabtu, dst
- Regulasi
opeasi warna kendaraan, misalkan Hari senin Mobil pribadi berwarna Hitam,
Putih Dan merah saja yang boleh beroperasi, dll
- Pada
keadaan jalan tertentu yang memadai Kendaraan Roda dua dan 4 dipisahkan,
agar tidak terjadi deadlblock
- Perusahaan
yang memiliki karyawan menggunakan kendaraan pribadi dalam jumlah tertentu
harus memiliki jemputan sendiri
- Membersihkan
angkutan umum dari orang-orang yang mencari nafkah dengan cara kekerasan
seperti ; pencopet dan penodong agar warga merasa lebih aman.
- menaikkan
biaya parkir di gedung-gedung komersial, seperti mall, dan jalan-jalan
utama.
- Pembatasan
lalu lintas tertentu memasuki kawasan atau jalan tertentu, seperti
diterapkan di Jakarta yang dikenal sebagai kawasan 3 in 1 atau
contoh lain pembatasan sepeda motor masuk jalan Tol, pembatasan mobil
pribadi masuk jalur busway.
14. Memindahkan
Ibukota Indonesia dari Jakarta ke kota lain di luar pulau Jawa
Itulah
beberapa upaya-upaya untuk mengatasi kemacetan di ibukota. Memang upaya-upaya
tersebut bukanlah hal gampang yang bisa dilaksanakan tapi jika ingin Jakarta
terbebas dari kemacetan sebisa mungkin harus ada upaya yang tegas untuk
mengurangi kemacetan yang terjadi.
BAB III
PENUTUP
III.1.Kesimpulan
Dari
pembahasan masalah pada bab II penulis dapat menarik kesimpulan bahwa walaupun
banyak factor yang menjadi penyebab terjadinya kemacetan di Jakarta, tetapi
penulis dapat mengambil tiga persoalan pokok penyebab terjadinya kemacetan
yaitu :
- Terbatasnya
lahan (ruang) jalan raya. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk menambah
lahan ruang jalan melalui pembangunan jalan-jalan flyover.
- Pemakaian
mobil pribadi yang tidak efisien
- Bus
Transjakarta (Busway) yang saat ini kurang efisien dalam artian
masih kurangnya kuantitas armada dan kualitas pelayanan sehingga
menyebabkan volume kendaraan pribadi begitu besar di Jakarta.
III.2. Saran
Saran yang
dapat penulis berika yaitu
- Peningkatan
kuantitas armada busway dan peningkatan kualitas pelayanan busway agar
pengguna kendaraan pribadi beralih ke busway
- Pembatasan
usia kendraan bermotor setelah busway berjalan baik
- Penegakan
hukum yang tegas terhadap pengguna jalan, pejalan kaki dan pedagang kaki
lima yang melanggar aturan
- Aturan
yang ketat dan tegas terhadap arus urbanisasi dengan cara seperti
pemeriksaan KTP di perketat, dan hukuman dipertegas apabila ada yang
melanggar
